Negara Ini Pernah Membuat Kota yang Dirancang untuk Menghadapi Kiamat Nuklir
Kalau biasanya kota dibuat buat tempat tinggal, kerja, belanja, atau nongkrong, Albania pada era Perang Dingin justru punya proyek yang vibes-nya jauh lebih ekstrem: menyiapkan tempat hidup kalau perang nuklir benar-benar pecah. Salah satu contohnya adalah Bunk’Art 1 di Tirana, kompleks bawah tanah raksasa yang dirancang sebagai tempat perlindungan bagi pemimpin politik Albania jika terjadi serangan nuklir. Kompleks ini bukan sekadar bunker kecil di halaman rumah, tetapi jaringan ruangan bawah tanah yang dibangun untuk membuat pemerintahan tetap bisa berjalan ketika kondisi di permukaan sudah kacau.
1. Bukan Sekadar Bunker, Tapi “Kota” di Bawah Tanah
Bunk’Art 1 memiliki lima lantai bawah tanah dan sekitar 106 ruangan, lengkap dengan berbagai ruang pendukung. Di dalamnya bahkan terdapat aula berkapasitas sekitar 150 orang yang dirancang sebagai tempat pertemuan parlemen Albania. Jadi, konsepnya bukan cuma “sembunyi sampai keadaan aman”, tetapi menciptakan lingkungan yang memungkinkan pemerintahan tetap berfungsi.
2. Dibuat untuk Menghadapi Ancaman Nuklir
Secara sederhana, struktur bawah tanah memberikan perlindungan lebih baik terhadap gelombang ledakan dan radiasi dibanding bangunan biasa di permukaan. Bunk’Art sendiri dibangun sebagai sistem terowongan anti-nuklir dan memiliki pintu-pintu berlapis untuk meningkatkan perlindungan terhadap ancaman dari luar. Pemerintah Albania kala itu memang sangat serius mengantisipasi kemungkinan serangan militer.
3. Albania Sampai “Bunkerisasi” Satu Negara
Yang bikin ceritanya makin absurd, proyek perlindungan ini tidak berhenti di kompleks besar. Pemerintahan Enver Hoxha membangun bunker di berbagai penjuru Albania. Data resmi yang dipamerkan Museum Angkatan Bersenjata Albania mencatat 173.371 bunker berbagai jenis telah dibangun hingga 1983, sementara sejumlah sumber sejarah menyebut jumlah akhirnya bisa mencapai ratusan ribu.
4. Ada Bunker di Tengah Kota Juga
Bunk’Art 2 di pusat Tirana merupakan bekas tempat perlindungan anti-atom milik Kementerian Dalam Negeri. Dibangun antara 1981 dan 1986, kompleks seluas sekitar 1.000 meter persegi ini memiliki dinding beton bertulang yang pada beberapa bagian mencapai 2,4 meter. Desain seperti ini menunjukkan bagaimana pertahanan sipil dan struktur pemerintahan dibuat dengan asumsi bahwa perang besar benar-benar mungkin terjadi.
Menariknya, “kota bawah tanah” tersebut tidak pernah benar-benar dipakai untuk menghadapi kiamat nuklir. Setelah era komunisme Albania berakhir, banyak bunker justru menjadi peninggalan aneh yang tersebar di lanskap negara tersebut. Sebagian dibongkar, sementara sebagian lainnya mendapat kehidupan baru sebagai museum, tempat wisata, ruang penyimpanan, bahkan digunakan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Bunk’Art 1 dan Bunk’Art 2 sendiri akhirnya diubah menjadi museum yang menceritakan sejarah politik dan kehidupan Albania pada masa Perang Dingin.
Jadi, kalau ada negara yang pernah benar-benar mempersiapkan “kehidupan setelah kiamat nuklir”, Albania punya salah satu contohnya yang paling unik. Dari luar cuma terlihat seperti bunker beton, tetapi di bawah tanahnya tersimpan sebuah sistem yang dirancang agar negara tetap bisa berjalan ketika dunia di permukaan berada dalam situasi paling buruk. Kini, tempat yang dulu dibuat karena ketakutan justru menjadi saksi sejarah Perang Dingin.