Ilmuwan Menemukan Bukti Dua Planet Pernah Bertabrakan Jauh di Luar Tata Surya
Bayangin ada dua planet yang lagi “adu jalur” di luar sana, lalu bukannya saling menghindar malah tabrakan kosmik dengan energi yang gila-gilaan. Fenomena seperti ini diduga terjadi di sistem ASASSN-21qj, sekitar 1.800 tahun cahaya dari Bumi. Dua planet yang bertabrakan diperkirakan merupakan planet raksasa es seukuran Neptunus. Menariknya, planet-planet tersebut tidak memiliki nama individu resmi; ASASSN-21qj sendiri adalah nama bintang induknya. Astronom justru mengenali kejadian ini dari “bekas kecelakaan” berupa cahaya inframerah dan awan puing yang muncul setelah tabrakan.
1. Cahaya bintang tiba-tiba berubah
Astronom awalnya melihat sesuatu yang aneh dari ASASSN-21qj. Kecerahan bintang tersebut mengalami perubahan yang tidak biasa. Pola seperti ini bisa saja disebabkan oleh benda yang melintas di depan bintang, tetapi data lanjut menunjukkan ada sesuatu yang jauh lebih menarik.
2. Ada sinyal inframerah sebelum bintang meredup
Sekitar 900 hari sebelum bintang terlihat meredup dalam cahaya tampak, pengamatan dari WISE/NEOWISE menunjukkan peningkatan cahaya inframerah. Secara sederhana, ini seperti melihat “asap panas” sebelum menemukan sumber ledakannya. Panas tersebut cocok dengan dugaan material yang sangat panas akibat tabrakan planet.
3. Dua planet diduga berubah menjadi material superpanas
Benturan dua planet seukuran Neptunus tentunya bukan tabrakan biasa. Energinya diperkirakan cukup besar untuk menghancurkan sebagian besar material planet dan mengubah batuan menjadi uap serta material cair. Para peneliti menduga terbentuk objek berbentuk seperti donat raksasa yang disebut synestia.
4. Puing-puingnya kemudian menghalangi cahaya bintang
Setelah tabrakan, material yang berhamburan tidak langsung menghilang. Awan debu dan puing terus bergerak mengikuti orbitnya. Ketika awan tersebut berada di antara bintang dan Bumi, cahaya ASASSN-21qj tampak meredup. Jadi, astronom seperti sedang melihat TKP kosmik dari jauh.
5. Kejadiannya sangat langka untuk diamati langsung
Tabrakan planet diperkirakan memang bisa terjadi selama proses pembentukan sistem planet, tetapi waktunya sangat singkat dibandingkan usia sebuah sistem bintang. Itulah sebabnya menangkap sinyal sebelum dan sesudah tabrakan menjadi sangat berharga bagi astronom.
Hal paling menarik dari kasus ini adalah ilmuwan sebenarnya tidak melihat dua planet tersebut bertabrakan seperti adegan film fiksi ilmiah. Mereka menyusun “puzzle” dari perubahan cahaya. Cahaya inframerah menjadi petunjuk adanya material panas, sementara peredupan cahaya beberapa tahun kemudian memberikan petunjuk bahwa puing hasil tabrakan akhirnya melintas di depan bintang. Jika interpretasi ini benar, peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh paling menarik tentang bagaimana planet dapat mengalami akhir yang ekstrem. Fenomena ini juga punya hubungan dengan sejarah Tata Surya kita sendiri. Salah satu teori utama pembentukan Bulan menyebutkan bahwa Bumi muda pernah mengalami tumbukan raksasa dengan benda seukuran planet yang sering disebut Theia. Bedanya, pada kasus ASASSN-21qj, astronom dapat mempelajari jejak tabrakan dari sistem planet yang sangat jauh.
Singkatnya, luar angkasa ternyata bukan tempat yang selalu tenang. Planet bisa terbentuk, berubah orbit, saling mendekat, bahkan bertabrakan dalam skala yang sulit dibayangkan. Dan yang lebih keren, manusia sekarang punya teknologi untuk membaca “bekas tabrakan” tersebut dari ribuan tahun cahaya jauhnya.